Mengenal Perhitungan Oscilator dan Momentum

0
491

Oscilator dan Momentum

OSCILATOR

Oscilator adalah salah satu alat dalam analisa teknikal yang terikat antara dua nilai atas-bawah yang dibangun dengan hasil perhitungan dari indikator trend untuk menemukan kondisi overbought atau oversold jangka pendek. Saat nilai oscilator mendekati nilai atas, kondisi tersebut dianggap overbought, dan saat mendekati nilai bawah, itu dianggap oversold. Sebelum kita bahas lebih jauh, perlu kita pahami bersama tentang kondisi Overbought dan Oversold dulu.

  • OVERBOUGHT = suatu kondisi jenuh beli dalam pasar sebagai akibat harga yang naik terus hingga mencapai batas level tertentu yang nantinya akan berakibat koreksi harga menjadi turun.
  • OVERSOLD = suatu kondisi jenuh jual dalam pasar sebagai akibat harga yang turun terus hingga mencapai batas level tertentu yang nantinya akan berakibat koreksi harga menjadi naik.

Oscilator ini adalah indikator yang cukup ampuh jika digunakan saat market sedang sideways (tidak trending), terutama bagi Swing-Trader yaitu trader yang gemar mengambil posisi berlawanan dengan trend, yakni BUY disaat trend turun dan SELL disaat trend naik. Karena seperti dijelaskan diatas bahwa oscilator adalah penanda Overbought/Oversold alias penanda REVERSAL (Pembalikan Arah Trend), entah itu hanya sekedar pembalikan akibat koreksi sejenak ataupun benar-benar pembalikan arah trend seluruhnya.
Oscilator yang paling umum digunakan dalam dunia trading forex adalah Stochastic dan RSI.

Oscilator biasanya digunakan bersamaan dengan indikator analisa teknikal lainnya untuk membuat keputusan perdagangan (signal trading). Jadi bisa dikatakan bahwa oscilator ini tidak bisa berdiri sendiri, dalam kata lain kita tidak seharusnya hanya menggunakan oscilator semata sebagai dasar dalam mengambil keputusan trading karena oscilator jika berdiri sendiri maka akan cukup banyak memberikan signal palsu.

Mekanisme kerja dari oscilator adalah untuk mengukur persentase skala dari 0 hingga 100, di mana harga penutupan relatif terhadap total kisaran harga untuk sejumlah bar tertentu dari deretan bar pada grafik bar. Hal ini dicapai melalui berbagai teknik memodifikasi dan merapikan beberapa Moving Average. Ketika pasar diperdagangkan dalam kisaran, maka oscilator akan mengikuti fluktuasi harga dan menunjukkan kondisi overbought ketika melebihi 70 sampai 80 persen dari total kisaran harga yang ditentukan, menandakan bahwa trend akan berbalik jadi turun dan itu adalah peluang bagi trader untuk SELL. Kondisi oversold muncul ketika oscilator jatuh di bawah angka 30 hingga 20 persen, menandakan bahwa trend harga akan berbalik jadi naik dan itu adalah peluang BUY bagi para trader.

Selama harga bergerak dengan pola tetap dalam kisaran yang ditetapkan, sinyal dari oscilator adalah valid. Namun, ketika breakout (penembusan batas) harga terjadi, sinyal oscilator dapat menjadi menyesatkan. Sebuah breakout harga bisa berupa sekedar koreksi sejenak dari trend terdahulu atau bisa jadi itu merupakan awal dari sebuah trend baru. Selama breakout harga, oscilator akan tetap berada di kisaran overbought atau oversold terus menerus selama beberapa waktu tergantung pada tingkat penembusan batas harga.
Di sinilah letak dilema bagi seorang trader. Kasus yang seringkali terjadi pada trader adalah panik dan ragu untuk switching/tukar posisi trading saat terjadi breakout, misalkan udah terlanjur SELL saat overbought namun market ternyata breakout naik terus…. apakah switch BUY atau tidak? disitulah letak dilema dalam menggunakan oscilator untuk trading forex.

contoh dilema yang dimaksud:

 

Menggunakan Oscilator dengan Indikator lain hukumnya adalah wajib.
Fakta bahwa oscilator lebih cocok untuk pasar sideways membuatnya lebih efektif bila digunakan bersama dengan indikator teknikal yang mengidentifikasi apakah saat ini pola pergerakan harga sedang berada dalam trend atau kisaran terikat. Misalnya, indikator crossover seperti MA (moving average) yang persinggungan garisnya dapat digunakan untuk menentukan apakah harga sedang bergerak dalam kisaran sideways atau trending. Atau bisa juga dikombinasikan dengan BB (Bollinger Band) untuk mendeteksi kondisi sideways atau trendingnya suatu pergerakan harga. Setelah trader yakin bahwa pergerakan harga sedang tidak bergerak trending, sinyal dari oscilator akan menjadi jauh lebih berguna dan efektif digunakan sebagai sinyal Open Posisi trading.

 

MOMENTUM

Momentum (MTM) adalah indikator dalam analisa teknikal yang menunjukkan perbedaan antara harga penutupan hari ini dan penutupan N hari lalu.

“Momentum” pada umumnya mengacu pada penerusan trend. Momentum  menunjukkan nilai diatas 100 jika uptrend (trend naik) akan berkelanjutan, atau bernilai dibawah 100 jika downtrend (trend turun) akan berkelanjutan.

Perubahan nilai momentum yang crossing keatas dari <100-melewati 100-menuju >100 dapat digunakan sebagai sinyal untuk BUY, dan sebaliknya jika nilai momentum crossing ke bawah dari >100-melewati 100-menuju <100 itu dapat diartikan sebagai sinyal untuk SELL. Tinggi-rendahnya nilai momentum jika diukur dari nol, dapat menunjukkan seberapa kuat trend tersebut.

Cara penggunaan momentum di MT4 biasanya memakai periode 24 untuk timeframe H1, karena 1 hari = 24 jam. Hal ini mengacu kembali ke definisi momentum itu sendiri seperti yang sudah tertulis di atas :
Momentum (MTM) adalah indikator dalam analisa teknikal yang menunjukkan perbedaan antara harga penutupan hari ini dan penutupan N hari lalu.

Dalam keuangan, momentum adalah kecenderungan pengamatan harga secara empiris untuk kenaikan harga aset meningkat lebih lanjut, dan harga jatuh untuk terus jatuh lebih dalam lagi.

Keberadaan momentum adalah anomali pasar, yang sulit dijelaskan oleh para ahli teori keuangan. Kesulitannya adalah bahwa peningkatan harga aset, dalam faktanya, tidak menjamin peningkatan lebih lanjut. Peningkatan tersebut, menurut hipotesis efisien-pasar, dijamin hanya dengan perubahan permintaan dan penawaran atau informasi baru (analisa fundamental dan sentimen pasar). Mahasiswa ekonomi keuangan sebagian besar telah mengaitkan momentum untuk bias kognitif, yang termasuk dalam ranah ekonomi perilaku. Penjelasannya adalah bahwa investor tidak rasional, yaitu bahwa mereka terlalu meremehkan informasi baru dengan tidak memasukkan berita harga transaksi mereka. Namun, dalam kebanyakan kasus penggelembungan harga, penelitian terbaru telah menyatakan bahwa momentum dapat diamati secara rasional bahkan oleh pedagang/trader pemula sekalipun.

Jadi kesimpulan yang bisa kita petik dari pembahasan mengenai Oscilator dan Momentum ini adalah bahwa kedua indikator ini tidak mampu berdiri sendiri karena pada dasarnya, kedua indikator ini hanyalah bersifat sebagai “pelengkap” saja dalam analisa teknikal trading forex. Itulah sebabnya dalam platform MT4, kolom Oscilator dan Momentum dipisahkan dari chart/grafik utama (biasanya ditampilkan di bawah chart utama pergerakan harga).
Baik Oscilator maupun Momentum harus digunakan bersamaan dengan indikator lainnya yang berada di dalam chart utama, agar didapatkan hasil analisa teknikal yang lebih baik.

Seringkali para ahli/master trader forex menggunakan Oscilator dan Momentum untuk memperbaiki kesalahan OP (Open Posisi) yang mereka alami. Istilah populernya: keseret, kefloating minus, bad-trade, salah posisi.
Kebanyakan mereka memanfaatkan signal dari Oscilator dan Momentum untuk menentukan titik Averaging, Hedging maupun Switching demi memperbaiki akun/portofolio mereka.