Kerja halal dari rumah,dengan profit konsisten jutaan rupiah

0
22

Bekerja di rumah adalah merupakan salah satu impian dan idaman dari setiap orang. Mengapa? Jawabannya adalah mudah, yaitu karena ia bisa menjadi bos bagi dirinya sendiri, ia bisa membuat peraturan sendiri, membuat jadwal sendiri, jam kantor bebas, tidak perlu kena macet, tak perlu bangun pagi, bisa libur lebih panjang, anti PHK, dan tak perlu takut dibegal di jalan.

Namun ada beberapa persyaratan supaya berhasil dalam bekerja di rumah. Yaitu adalah kemampuan untuk menyemangati dan memotivasi diri sendiri, serta konsisten terhadap jadwal dan pekerjaan yang telah dibuat sendiri, sehingga hasil yg diperoleh bisa optimal. Selain motivasi yang harus terus dijaga, kemampuan untuk meningkatkan ilmu/ pengetahuan dan informasi terbaru harus senantiasa diupayakan agar bisa tetap bersaing dengan dinamika perkembangan jaman.

Lalu bagaimana agar motivasi tetap selalu ada, yaitu:

  1. Sebelum memulai anda harus memikirkan alasan yg kuat.
  2. Buatlah target yg selalu diatas level/pencapaian anda saat ini.
  3. Gunakan keberhasilan walau kecil sebagai motivasi, jadi buatlah target kecil dan besar.
  4. Tidak ada salahnya Anda bermimpi (rumah mewah, mobil baru, financial freedom, naik haji, dsb).
  5. Walau sedikit, anda harus tahu apa yang anda kerjakan esok pagi.
  6. Keseimbangan antara pencapaian kerja, dan kehidupan sosial sangat diperlukan, jangan sampai anda bekerja terus menerus yang nantinya justru akan membuat anda bosan, atau malah stress. Karena itu tidak ada salahnya jika coba berhenti sejenak atau bepergian ke tempat-tempat yang Anda sukai mengumpulkan kembali semangat Anda saat kembali bekerja.

Beberapa alasan mengapa orang memulai untuk Bekerja dari rumah, antara lain :

  • Belum mendapat kerja (baru lulus sekolah/kuliah).
  • Income tambahan (paruh waktu).
  • Menggunakan bekal dan pengalaman kerja yg lalu untuk memulai sesuatu sendiri (mandiri/entrepreneur).
  • Menghabiskan 2-4 jam sehari di jalan alias kejebak macet.
  • Waktu yang cukup untuk keluarga (ibu-ibu).
  • Meningkatkan kualitas hidup (waktu, ibadah, sosial).
  • Ingin fokus menjalin kedekatan dengan ALLAH SWT tanpa perlu khawatir dengan kebutuhan duniawi.

Penghasilan dari Online

Tentunya banyak cara dan model agar orang dapat bekerja sendiri. Dan salah satu yang menjadi alternatif adalah bekerja dari rumah secara online(internet), bisnis online, atau netpreneur. Mengapa banyak orang yang beralih ke bisnis ini. Jawabannya adalah singkat karena modalnya relatif murah yaitu hanya berupa koneksi internet saja. Namun modal yang terutama adalah ketekunan, disiplin. Tanpa itu sebenarnya hanya buang-buang waktu saja.

Seiring dengan perkembangan internet sekarang ini, yang juga diikuti perkembangan pengguna internet, ragam jenis bisnis online ini sudah sangat banyak sekali. Namun yang akan kita ulas disini adalah Trading Forex Online secara HALAL dan BEBAS DARI RIBA. Bukankah itu hal yang menyenangkan, jika kita bisa bekerja secara halal hanya dari rumah dan berpotensi menghasilkan ratusan juta rupiah secara rutin, sembari waktu kita digunakan untuk beribadah dan beramal soleh kepada sesama yang membutuhkan? Masya Allah, kita bisa fokus mencari kebutuhan akhirat tanpa khawatir tentang kebutuhan duniawi, karena kebutuhan duniawi kita sudah terpenuhi sendiri secara otomatis. Nah, tanpa perlu basa-basi lagi marilah kita simak ulasan berikut ini tentang Trading Forex.

Forex Dalam Hukum Islam

Berikut ini adalah ulasan tentang Trading Forex dalam Hukum Islam yang disadur dan dikutip dari MUI (Majelis Ulama Indonesia), lengkap beserta dalil-dalil dan fatwanya.

Dalam bukunya Prof. Drs. Masjfuk Zuhdi yang berjudul MASAIL FIQHIYAH; Kapita Selecta Hukum Islam, diperoleh bahwa Forex (Perdagangan Valas) diperbolehkan dalam hukum islam. Perdagangan valuta asing timbul karena adanya perdagangan barang-barang kebutuhan/komoditi antar negara yang bersifat internasional. Perdagangan (Ekspor-Impor) ini tentu memerlukan alat bayar yaitu UANG yang masing-masing negara mempunyai ketentuan sendiri dan berbeda satu sama lainnya sesuai dengan penawaran dan permintaan diantara negara-negara tersebut sehingga timbul PERBANDINGAN NILAI MATA UANG antar negara.

Perbandingan nilai mata uang antar negara terkumpul dalam suatu BURSA atau PASAR yang bersifat internasional dan terikat dalam suatu kesepakatan bersama yang saling menguntungkan. Nilai mata uang suatu negara dengan negara lainnya ini berubah (berfluktuasi) setiap saat sesuai volume permintaan dan penawarannya. Adanya permintaan dan penawaran inilah yang menimbulkan transaksi mata uang. Yang secara nyata hanyalah tukar-menukar mata uang yang berbeda nilai.

HUKUM ISLAM dalam TRANSAKSI VALAS

  1. Ada Ijab-Qobul : —> Ada perjanjian untuk memberi dan menerima.
  • Penjual menyerahkan barang dan pembeli membayar tunai.
  • Ijab-Qobulnya dilakukan dengan lisan, tulisan dan utusan.
  • Pembeli dan penjual mempunyai wewenang penuh melaksanakan dan melakukan tindakan-tindakan hukum (dewasa dan berpikiran sehat)

2. Memenuhi syarat menjadi objek transaksi jual-beli yaitu:

  • Suci barangnya (bukan najis)
  • Dapat dimanfaatkan
  • Dapat diserahterimakan
  • Jelas barang dan harganya
  • Dijual (dibeli) oleh pemiliknya sendiri atau kuasanya atas izin pemiliknya
  • Barang sudah berada ditangannya jika barangnya diperoleh dengan imbalan.

Perlu ditambahkan pendapat Muhammad Isa, bahwa jual beli saham itu diperbolehkan dalam agama.

“Jangan kamu membeli ikan dalam air, karena sesungguhnya jual beli yang demikian itu mengandung penipuan”. (Hadis Ahmad bin Hambal dan Al Baihaqi dari Ibnu Mas’ud)

Jual beli barang yang tidak di tempat transaksi diperbolehkan dengan syarat harus diterangkan sifatsifatnya atau ciri-cirinya. Kemudian jika barang sesuai dengan keterangan penjual, maka sahlah jual belinya. Tetapi jika tidak sesuai maka pembeli mempunyai hak khiyar, artinya boleh meneruskan atau membatalkan jual belinya. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi riwayat Al Daraquthni dari Abu Hurairah:

Barang siapa yang membeli sesuatu yang ia tidak melihatnya, maka ia berhak khiyar jika ia telah melihatnya”.

Jual beli hasil tanam yang masih terpendam, seperti ketela, kentang, bawang dan sebagainya juga diperbolehkan, asal diberi contohnya, karena akan mengalami kesulitan atau kerugian jika harus mengeluarkan semua hasil tanaman yang terpendam untuk dijual. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum Islam: “Kesulitan itu menarik kemudahan.”

Demikian juga jual beli barang-barang yang telah terbungkus/tertutup, seperti makanan kalengan, LPG, dan sebagainya, asalkam diberi label yang menerangkan isinya. Vide Sabiq, op. cit. hal. 135. Mengenai teks kaidah hukum Islam tersebut di atas, vide Al Suyuthi, Al Ashbah wa al Nadzair, Mesir, Mustafa Muhammad, 1936 hal. 55.

JUAL BELI VALUTA ASING DAN SAHAM

Yang dimaksud dengan valuta asing adalah mata uang luar negeri seperi dolar Amerika, poundsterling Inggris, ringgit Malaysia, Yen Jepang dan sebagainya. Apabila antara negara terjadi perdagangan internasional maka tiap negara membutuhkan valuta asing untuk alat bayar luar negeri yang dalam dunia perdagangan disebut devisa. Misalnya eksportir Indonesia akan memperoleh devisa dari hasil ekspornya, sebaliknya importir Indonesia memerlukan devisa untuk mengimpor dari luar negeri. Dengan demikian akan timbul penawaran dan permintaan di bursa valuta asing. setiap negara berwenang penuh menetapkan kurs uangnya masing-masing (kurs adalah perbandingan nilai uangnya terhadap mata uang asing) misalnya 1 dolar Amerika = Rp. 14.000. Namun kurs uang atau perbandingan nilai tukar setiap saat bisa berubah-ubah, tergantung pada kekuatan ekonomi negara masing-masing. Pencatatan kurs uang dan transaksi jual beli valuta asing diselenggarakan di Bursa Valuta Asing (A. W. J. Tupanno, et. al. Ekonomi dan Koperasi, Jakarta, Depdikbud 1982, hal 76-77)

FATWA MUI TENTANG PERDAGANGAN VALAS
Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia
No: 28/DSN-MUI/III/2002 tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf)

Menimbang:

  1. Bahwa dalam sejumlah kegiatan untuk memenuhi berbagai keperluan, seringkali diperlukan transaksi jual-beli mata uang (al-sharf), baik antar mata uang sejenis maupun antar mata uang berlainan jenis.
  2. Bahwa dalam ‘urf tijari (tradisi perdagangan) transaksi jual beli mata uang dikenal beberapa bentuk transaksi yang status hukumnya dalam pandangan ajaran Islam berbeda antara satu  bentuk dengan bentuk lain.
  3. Bahwa agar kegiatan transaksi tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam, DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang al-Sharf untuk dijadikan pedoman.

Mengingat:

  1. “Firman Allah, QS. Al-Baqarah[2]:275: “…Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”.
  2. “Hadis nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id al-Khudri:Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan atas dasar kerelaan (antara kedua belah pihak)’ (HR. albaihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).
  3. “Hadis Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi s.a.w bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”.
  4. “Hadis Nabi riwayat Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad, dari Umar bin Khattab, Nabi s.a.w bersabda: “(Jual-beli) emas dengan perak adalah riba kecuali (dilakukan) secara tunai.”
  5. “Hadis Nabi riwayat Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri, Nabi s.a.w bersabda: Janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagian atas sebagian yang lain; janganlah menjual perak dengan perak kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagaian atas sebagian yang lain; dan janganlah menjual emas dan perak tersebut yang tidak tunai dengan yang tunai.
  6. “Hadis Nabi riwayat Muslim dari Bara’ bin ‘Azib dan Zaid bin Arqam : Rasulullah saw melarang menjual perak dengan emas secara piutang (tidak tunai).
  7. “Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”
  8. “Ijma. Ulama sepakat (ijma’) bahwa akad al-sharf disyariatkan dengan syarat-syarat tertentu.

Memperhatikan:

  1. Surat dari pimpinah Unit Usaha Syariah Bank BNI no. UUS/2/878.
  2. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis, tanggal 14 Muharram 1423H/ 28 Maret 2002.

MEMUTUSKAN:

Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan: FATWA TENTANG JUAL BELI MATA UANG (AL-SHARF).

Pertama : Ketentuan Umum

Transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan).
  2. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan).
  3. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh).
  4. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dan secara tunai.

Kedua: Jenis-Jenis Transaksi Valuta Asing

  1. Transaksi SPOT, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valuta asing untuk penyerahan pada saat itu (over the counter) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari. Hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional.
  2. Transaksi FORWARD, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valas yang nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang, antara 2×24 jam sampai dengan satu tahun. Hukumnya adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa’adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk forward agreement untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah).
  3. Transaksi SWAP yaitu suatu kontrak pembelian atau penjualan valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga forward. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).
  4. Transaksi OPTION yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).

Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di: Jakarta
Tanggal : 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 M

DEWAN SYARI’AH NASIONAL – MAJELIS ULAMA INDONESIA

Dari hasil ulasan diatas, kini kita menjadi paham bahwa Kerja Halal dari rumah dengan profit konsisten jutaan rupiah itu sangat bisa dilakukan. Yaitu dengan jalan Trading Forex Online. Dan salah satu penyedia layanan Trading Forex Online yang terbaik di Indonesia dan memenuhi kaidah-kaidah Islam adalah IndoFxRebates/ProInsta yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

  • Ada ijab qobul (perjanjian untuk memberi dan menerima) berupa tulisan elektronika di form deposit dan form withdrawal.
  • Objek jual belinya jelas, yaitu berupa balance (saldo elektronik) di akun trading.
  • Objek jual belinya dapat diserah-terimakan.
  • Jenis perdagangannya adalah Transaksi Spot, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valuta asing untuk penyerahan pada saat itu juga (over the counter).
  • Tersedia akun trading berbasis syariah (islamic account/swap-free)

Demikian informasi yang kami sampaikan, semoga menjadi manfaat bagi kita semua.

 

Katakanlah: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja(pula), maka kelak kamu akan mengetahui. ~QS. Az-Zumar [39]:39~