Chart Patterns Penerusan

0
1275
Chart Patterns Penerusan

CHART  PATTERNS (POLA GRAFIK) PENERUSAN  TREND

Berikut akan kita bahas beberapa Pola Dasar Penerusan Trend dari Metode Chart Patterns. Pembahasan disini berdasarkan metode yang digunakan oleh salah satu mentor trading kelas dunia sekaligus spesialis chart pattern, yakni master Thomas N. Bulkowski.

Pola Flag (Penerusan)

Pola Flag adalah pola penerusan trend jangka pendek yang menandai konsolidasi kecil sebelum melanjutkan pergerakan sesuai trend sebelumnya. Pola ini biasanya bentuknya didahului oleh kenaikan atau penurunan yang tajam dengan volume besar, lalu dilanjutkan dengan pergerakan kecil yang membentuk sebuah pola persegi panjang diagonal mirip bendera (flag).

chart patterns [flag]

Aturan main:
– identifikasi/temukan flagpole/tiang bendera (n pips) nya dulu.
– hitung jarak pips dari flagpole (n pips) nya itu.
– identifikasi flag (bendera) nya pakai trendline high ke high dan low ke low.
– OP searah dengan flagpole saat harga bergerak menembus ujung flag.
– pasang TP dengan jarak 1/2 (setengah) dari jarak flagpole (n pips)

chart patterns flag ex

*) tips: pola flag biasanya itu flag-nya berkisar di fibo 38.2 atau fibo 50 dari flagpole, tidak melebihi fibo 61.8, jika melebihi fibo 61.8 maka polanya gagal

 

Pola Pennant (Penerusan)


Pola Pennant secara garis besar hampir mirip dengan pola Flag, hanya bedanya di bentuknya. Jika pola Flag membentuk sebuah pola persegi panjang diagonal mirip bendera (flag), sedangkan pola Pennant membentuk sebuah pola segitiga simetris di ujung flagpole-nya. Jadi bisa dibilang pola Pennant ini adalah pola bendera segitiga.

chart patterns pennant

Aturan main:
– identifikasi/temukan flagpole/tiang bendera (n pips) nya dulu.
– hitung jarak pips dari flagpole (n pips) nya itu.
– identifikasi pennant (bendera segitiga) nya pakai trendline high ke high dan
low ke low.
– OP searah dengan flagpole saat harga bergerak menembus ujung pennant.
– pasang TP dengan jarak 60% dari jarak flagpole (n pips)

pennant ex

*) tips: pola pennant biasanya itu pennant/segitiga-nya berkisar di fibo 23.6 atau fibo 38.2 dari flagpole, tidak melebihi fibo 50, jika melebihi fibo 50 maka polanya mungkin berubah jadi pola Flag atau bahkan polanya sama sekali gagal.

Akurasi pola Flag dan Pennant ini adalah 80%, artinya dari 100x trade menggunakan pola ini hanya 80x trade yang sukses terwujud polanya sesuai prediksi.

 

Pola Symmetrical Triangle (Penerusan)

Pola ini jika diterjemahkan berarti Segitiga simetris, biasanya terbentuk sebagai pola Penerusan Trend. Pola ini mengandung setidaknya dua Lower-High dan dua Higher-Low. Ketika semua titik-titik ini terhubung oleh TrendLine maka akan membentuk/berwujud symmetrical triangle (segitiga simetris).
Meskipun kadangkala Pola Symmetrical Triangle menandai pembalikan trend/reversal, tapi secara garis besar Pola ini lebih sering menandai kelanjutan dari trend saat ini, dengan kata lain Penerusan Trend. Terlepas dari sifat pola ini, entah itu penerusan atau pembalikan, arah trend berikutnya hanya dapat ditentukan setelah breakout valid.

chart patterns sym-tri
(skema symmetrical triangle)
chart patterns sym-tri ex bull
(symmetrical triangle BULLISH)
sym-tri ex bear
(symmetrical triangle BEARISH)

Dalam rangka memenuhi syarat sebagai pola Penerusan Trend, maka trend awal harus ada dan harus benar-benar kuat/solid. Trend awal jika Bullish, maka harus memiliki Support yang solid dan sudah teruji beberapa kali (L1) dan jika Trend awalnya adalah Trend Bearish, maka harus memiliki Resisten yang solid serta teruji beberapa kali (h1), dan Pola Symmetrical Triangle muncul pada masa konsolidasi/sideways sebelum melanjutkan/meneruskan trend setelah breakout nanti.

Untuk dapat menarik TrendLine, setidaknya butuh 2 titik puncak ataupun lembah dan untuk dapat membuat Pola Symmetrical Triangle ini, setidaknya dibutuhkan 2 TrendLine. Oleh karena itu, minimal 4 titik yang diperlukan dalam analisa untuk melacak formasi pergerakan harga sebagai symmetrical triangle. titik High kedua (h2) harus lebih rendah dari titik High yang pertama (h1) dan garis trendline triangle-nya yang atas harus miring/diagonal ke bawah.
Titik Low kedua (L2) harus lebih tinggi dari yang pertama (L1) dan garis trendline triangle-nya yang atas harus miring/diagonal ke atas. Idealnya, pola Symmetrical Triangle ini pasti akan membentuk dengan 6 poin (3 di sisi atas dan 3 di sisi bawah) terlebih dahulu sebelum breakout terjadi.

Untuk pola symmetrical triangle Bullish, cara menentukan TARGET penerusan trend Bullishnya nanti berapa pips, adalah dengan cara menarik garis vertikal dari titik tertinggi (h1) ke trendline triangle bawah dan ukur jaraknya berapa pips (contoh pada gambar adalah 800 pips). Setelah itu tunggu breakout bullish terjadi, kemudian dari titik breakout bullish tersebut (biasanya di dekat titik h3) tariklah garis perkiraan naik dengan jarak pips yg sama dengan jarak pips dalam pola triangle tadi (contoh pada gambar adalah 800 pips), maka ketemulah perkiraan titik target kenaikan/penerusan trend bullishnya sampai mana nanti.
Nah, kini kita sudah mengetahui dari breakout tadi bahwa trend bullish akan berlanjut naik sebesar jarak pips dalam triangle (contoh pada gambar adalah 800 pips) dan juga kita sudah berhasil memprediksikan target kenaikannya nanti berapa pips, maka silahkan follow BUY sepuasnya dengan TP (take profit) di titik TARGET dan SL (stop-loss) di titik L3 selaku support terakhir sebelum breakout bullish tadi terjadi.

Untuk pola symmetrical triangle Bearish metodenya hampir sama namun dibalik, cara menentukan TARGET penerusan trend Bearishnya nanti berapa pips, adalah dengan cara menarik garis vertikal dari titik terendah (L1) ke trendline triangle atas dan ukur jaraknya berapa pips (contoh pada gambar adalah 96 pips). Setelah itu tunggu breakout bearish terjadi, kemudian dari titik breakout bearish tersebut (biasanya di dekat titik L3) tariklah garis perkiraan turun dengan jarak pips yg sama dengan jarak pips dalam pola triangle tadi (contoh pada gambar adalah 96 pips), maka ketemulah perkiraan titik target penurunan/penerusan trend bearishnya sampai mana nanti.
Nah, setelah mengetahui dari breakout tadi bahwa trend bearish akan berlanjut turun lagi sebesar jarak pips dalam triangle (contoh pada gambar adalah 96 pips) dan juga setelah kita memprediksikan target penurunannya nanti berapa pips, maka silahkan follow SELL sepuasnya dengan TP (take profit) di titik TARGET dan SL (stop-loss) di titik H3 selaku resisten terakhir sebelum breakout bearish tadi terjadi.

Dalam kenyataannya, kendala yang sering dialami oleh para trader adalah kesulitan dalam melacak pola, karena fakta yang terjadi di market itu tak semudah seperti di contoh gambar diatas. Kalau contoh gambar diatas itu kan market yg udah terjadi/terbentuk, sedangkan kalau trading sebenarnya itu kan kita berhadapan dengan market/pergerakan harga yang belum terjadi.
JANGAN KHAWATIR, dengan giat berlatih pasti kita mampu mahir melacak pola, yang perlu diingat kuncinya symmetrical triangle itu adalah 3 high 3 low, high yg menurun dan low yang menaik/meninggi lalu bertemu membentuk segitiga.
Perlu diketahui bahwa sebenarnya pola symmetrical triangle ini adalah salah satu pola chart pattern yang juga masuk dalam ilmu Elliott Wave, dan punya akurasi cukup tinggi sekaligus memiliki tingkat kesulitan deteksi yang tinggi pula. Jadi seringkali pola ini tersamarkan dalam pergerakan harga.
Pola ini memiliki Power penerusan Bullish 66% dan Power penerusan Bearish sebesar 48%.

 

Pola Ascending Triangle (penerusan)

Pola Ascending Triangle adalah formasi segitiga siku-siku yang biasanya terbentuk selama uptrend (trend naik) sebagai pola kelanjutan/penerusan trend naik. Ada kalanya pola ini juga muncul pada market downtrend (trend turun) dan berfungsi sebagai penanda penerusan trend turun pula.
Pola Ascending Triangle ini merupakan variasi dari pola symmetrical triangle yang sama-sama merupakan bagian dari ilmu Elliot Wave juga.
Bagian atas segitiganya harus flat/datar, sedangkan bagian bawah segitiganya memiliki kemiringan ke atas (menaik/meninggi).

chart patterns asc-tri

Pada market Uptrend (trend naik), pola Ascending Triangle ini menandakan pergerakan kenaikan harga membentur “atap” resisten yang susah dijebol namun tidak memiliki elastisitas alias power untuk memantulkan harga kebawah lagi, sehingga kekuatan Bullish yang sedang dominan di market Uptrend tadi menggalang kekuatan baru (akumulasi) dengan cara mendirikan pijakan titik-titik Support baru yang menaik/menanjak mendekati “atap” resisten tersebut untuk menjebolnya.

Dari hasil riset Thomas N. Bulkowski, pola ini memiliki Power penerusan Bullish sebesar 75% dan Power penerusan Bearish 68%.

chart patterns asc-tri ex

Hampir sama dengan Pola Symmetrical Triangle, untuk memenuhi syarat sebagai pola Penerusan Trend, maka Pola Ascending Triangle ini harus memiliki dasar Trend Awal yang benar-benar kuat/solid juga.
Yang sedikit berbeda adalah Pola Ascending Triangle ini lebih valid pada market Uptrend/Bullish, dan kurang kuat untuk meneruskan Trend pada market Downtrend/Bearish.

Setidaknya harus ada 2 titik High yang diperlukan untuk membentuk garis horizontal trendline atas. 2 titik High itu tidak harus sama nilainya, tetapi keduanya harus berada pada titik harga yang berdekatan satu sama lain. Dan diantara kedua titik High tersebut harus ada koreksi Low dengan jarak wajar.

Untuk garis trendline diagonal bawah yang menaik/menanjak, minimal harus ada dua titik Low, dimana titik Low kedua atau berikutnya semakin tinggi.
Jika titik Low yang lebih baru nilainya sama dengan atau kurang dari titik Low sebelumnya, maka pola ascending triangle dinyatakan tidak valid.
Seiring pergerakan harga membentuk pola Ascending Triangle, volume biasanya berkontraksi. Ketika breakout penerusan Trend terjadi, harus ada perluasan volume untuk mengkonfirmasi breakout.

Meskipun konfirmasi breakout menggunakan bacaan volume itu lebih valid, namun seringkali trader lebih memilih langsung entry market saat breakout menembus trendline atas.
Nah, setelah breakout terjadi, proyeksi harga dapat ditentukan/diprediksi dengan cara mengukur jarak terlebar dari pola (AB) dan menerapkannya pada titik resisten yang berhasil dijebol saat terjadi breakout tadi (CD), dimana rumus untuk pola ini adalah jarak AB = jarak CD.

 

Pola Descending Triangle (penerusan)

Pola Descending Triangle ini adalah mirip namun merupakan kebalikan dari pola Ascending Triangle. Jika pada Ascending Triangle itu identik dengan titik Low yang menaik/menanjak dan titik High yang cenderung tetap/lurus, maka pada Descending Triangle itu justru titik Low nya tetap/lurus dan titik High-nya yang menurun (bhs.inggris, descending = menurun).

chart patterns desc-tri

Pada umumnya, Pola Descending Triangle ini banyak dijumpai pada market downtrend/Bearish dan berfungsi sebagai Pola Penerusan Bearish, namun tak jarang pula pola ini muncul di market Bullish dan berfungsi sebagai pola Penerusan Bullish. Jadi pada intinya, entah pola ini muncul di market Bullish maupun Bearish, fungsinya tetaplah sama yakni sebagai Pola Penerusan dari trend dominan sebelumnya.

Pola Descending Triangle ini memiliki karakteristik sbb:
– harus ada trend awal yang solid/dominan
– harus punya minimal 2 titik High dan 2 titik Low
– titik Low yang cenderung sama, dan titik High yang menurun
– Power penerusan Bearish 84%, akurasi penerusan Bullish 54%
– volumenya semakin mengecil seiring terbentuknya pola ini
– kadang bisa terjadi reversal sedikit sebelum akhirnya terjadi breakout penerusan trend, hal ini sering terjadi saat susunan volume tidak teratur.

chart patterns desc-tri ex

Untuk memprediksi dimana target penerusan trend-nya, rumus yang berlaku adalah seperti yang tertera di gambar, yakni AB=CD. Dimana AB adalah jarak terjauh antara High dan Low dalam pola Descending Triangle itu sendiri, sedangkan titik C adalah titik breakout dan titik D adalah target penerusan trend dari pola itu sendiri.
Jadi jika sudah berhasil menghitung jarak AB dan sudah terjadi breakout pada pola Descending Triangle ini, maka trader bisa mulai entry-market (OP) di titik C dan pasang order Take Profit (TP) di titik D nanti.

 

Pola Rectangle

Rectangle, terjemahan bahasa Indonesia-nya adalah: persegi panjang.
Pola Rectangle dalam chart pattern ini bentuknya memang menyerupai persegi panjang. Pola Rectangle ini adalah pola kelanjutan/penerusan Trend yang terbentuk sebagai rentang perdagangan (koreksi) selama jeda dalam suatu Trend pergerakan harga. Pola ini mudah diidentifikasi dari ciri khas-nya, yaitu punya dua titik tertinggi yang sebanding dan dua titik terendah sebanding pula. Titik tertinggi dan terendah dapat dihubungkan untuk membentuk dua garis sejajar yang membentuk bagian atas dan bagian bawah dari persegi panjang.

Pola persegi panjang ini kadang-kadang disebut sebagai area rentang perdagangan, zona konsolidasi atau daerah sideways. Banyak kesamaan antara pola persegi panjang dan pola segitiga simetris. Kedua pola ini biasanya sama-sama menandakan pola kelanjutaan/penerusan Trend, dan seringkali juga dapat menandai titik puncak dan lembah dalam suatu pergerakan harga secara signifikan. Seperti halnya symmetrical triangle, pola rectangle belumlah lengkap sampai breakout telah terjadi. Kadang-kadang petunjuk dapat kita temukan, tetapi arah breakout biasanya sukar kita temukan sebelumnya.

Biasanya Pola Rectangle ini banyak dijumpai pada market downtrend/Bearish dan seringkali muncul juga di market Bullish dan berfungsi sebagai pola Penerusan. Jadi pada intinya, kemunculan pola ini di market Bullish maupun Bearish, fungsinya tetaplah sama yakni sebagai Pola Penerusan dari trend dominan sebelumnya.

Karakteristik dari Pola Rectangle ini adalah:
– harus ada trend awal yang dominan sebelumnya
– harus ada minimal 4 titik sebagai tumpuan pola (2 high dan 2 low)
– 2 titik high harus cenderung senilai/sejajar, sehingga bisa ditarik garis lurus
– 2 titik low harus cenderung senilai/sejajar, jadi bisa ditarik garis lurus pula
– Power penerusan Bullish 80%, akurasi penerusan Bearish 63%
– volume idealnya berbentuk huruf U atau W di dalam pola Rectangle nya
– kadang setelah terjadi breakout, harga bisa berbalik berusaha masuk ke dalam pola Rectangle-nya lagi (re-test) sebelum akhirnya harga bergerak meneruskan Trend seperti seharusnya. Hal ini bisa terjadi saat sebaran volumenya tidak ideal (U/W) atau saat oscilator masih netral ditengah, belum menunjukkan overbought/oversold.

chart patterns rect

Prediksi target penerusan trend-nya adalah dengan menggunakan rumus seperti pola-pola sebelumnya yakni AB=CD. Dimana AB adalah jarak antara sisi atas dengan sisi bawah persegi panjang (High dan Low) pada pola Rectangle tersebut, sedangkan titik C adalah titik breakout dan titik D adalah target penerusan trend dari pola itu sendiri. (D= C + panjang AB)
Setelah terjadi breakout maka trader bisa mulai entry-market (OP) di dekat titik C dan pasang order Take Profit (TP) di titik D.

 

Price Channel

Pola Price Channel adalah pola kelanjutan/penerusan Trend yang miring ke atas atau ke bawah dan terikat oleh garis trend atas dan bawah. Garis trend atas menandai perlawanan dan garis trend bawah menandakan dukungan.
Price Channel dengan lereng kemiringan negatif (turun) disebut Price Channel Down dan Price Channel dengan lereng kemiringan positif (naik) disebut Price Channel Up.

Pola Price Channel ini termasuk salah satu pola unik yang sering muncul di dalam grafik forex setiap harinya, namun mungkin jarang kita sadari.
Keunikan dari Pola Price Channel ini adalah:
Price Channel Down sebenarnya adalah indikasi Penerusan Trend Bullish, dan
Price Channel Up sebenarnya adalah indikasi Penerusan Trend Bearish.

Pada trend utama yang Bullish (naik) seringkali yang muncul adalah Price Channel Down, sebagai koreksi turun sementara sebelum Trend utama Bullish tadi melanjutkan Penerusan Naik-nya. Demikian pula sebaliknya, Pada trend utama yang Bearish (turun) seringkali yang muncul adalah Price Channel Up, sebagai koreksi naik sementara sebelum Trend utama Bearish tadi melanjutkan Penerusan Trend Turun-nya.

Untuk menentukan titik target Penerusan Trend-nya setelah breakout Price Channel terjadi, adalah dengan menggunakan Fibonacci Retracement atau bisa juga dengan Fibonacci Expansion.

Price Channel dengan Fibonacci Retracement
Price Channel dengan Fibonacci Expansion

Jika trading menggunakan metode Price Channel + Fibonacci Retracement, maka target TP-nya adalah di level fibo 161.8
Jika trading menggunakan metode Price Channel + Fibonacci Expansion, maka target TP-nya adalah di level fibo expansion 100 dan fibo expansion 161.8

 

Cup with Handle

Cup with Handle adalah pola kelanjutan/penerusan BULLISH yang menandai masa konsolidasi setelah pergerakan Trend Bullish kuat sebelumnya, dan pada akhir pola Cup with Handle biasanya diikuti oleh breakout. Pola ini dulunya dikembangkan oleh William O’Neil dan diperkenalkan dalam bukunya tahun 1988, yang berjudul “Cara Membuat Uang di Saham”.

Seperti namanya Cup (cangkir) dan Handle (pegangan), ada dua bagian di dalam pola ini: cangkir dan pegangan. Bentuk cangkir ini tampak pada grafik seperti mangkuk melengkung di bagian bawah. Setelah bentuk cangkir selesai terbentuk, pergerakan Trend kemudian berkembang di sisi kanan pola cangkir untuk selanjutnya membentuk pola Handle (pegangan). Setelah pola cangkir dan pegangan-nya lengkap terbentuk, maka biasanya akan muncul Breakout untuk melanjutkan/meneruskan Trend Bullish menjadi lebih naik lagi.

Pola Cup with Handle ini memiliki karakteristik sbb:
– harus ada trend awal berupa trend BULLISH yang dominan
– pola dinyatakan tidak valid jika trend awal adalah trend Bearish
– bentuk CUP-nya harus lengkung seperti huruf “U”, bukan huruf “V”
– CUP biasanya terdiri dari 7 candle hingga 65 candle
– jarak HANDLE (A-C) tidak boleh melebihi dasar CUP (B)
– bentuk HANDLE (A-C) harus berupa Price-Channel Down

*) jika pola Cup with Handle sudah terbentuk sempurna, maka peluangnya adalah 85% untuk terjadi breakout Bullish (harga naik menembus titik A) dan memiliki kemungkinan 38% harga akan koreksi/re-test titik A yang telah beralih fungsi dari Resisten menjadi Support baru.

*) jika setelah breakout Bullish terjadi, titik A terbukti kuat menjadi Support baru, maka target kenaikan pertama adalah: A + (0.5 x jarak AB), dan target kenaikan kedua adalah: A + (1x jarak AB)

*) jika setelah breakout Bullish terjadi, titik A jebol dan harga kembali turun, maka bersiaplah pasang Stop-Loss atau switch SELL di titik C.

Gambar diatas adalah contoh realisasi Pola Cup with Handle dalam market USD-CAD, dan terwujud targetnya sesuai aturan perhitungan Pola Cup with Handle, yakni Target 1 = 50% dari jarak AB, alias  A+(0.5 x jarak AB)

 

Demikianlah pembahasan mengenai beberapa pola dasar dalam Chart Pattern Penerusan Trend. Untuk kesempatan berikutnya akan kita ulas bersama mengenai Chart Pattern Reversal (Pembalikan Trend).

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here